Tampilkan postingan dengan label MAROKO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAROKO. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2016

TANGIER (3)




Old Medina dan Souk



Medina yang secara literal berarti kota, lazim ditemukan di negara-negara Afrika Utara seperti Maroko, Libya, Tunisia, Aljazair. Di Maroko, ada kurang lebih sepuluh Medina. Tersebar di Rabat, Fes, Marakesh, Tetouan, Essaouira, Meknes, Casablanca, Taza, Chefchaouen, Tangier.    Kawasan ini seolah bagian tersendiri dari sebuah kota, dikelilingi tembok dengan gang-gang bagai labirin, bangunan bergaya kuno, dan pasar yang menawarkan barang-barang khas. 



Kami ke Old Medina pagi-pagi. Pasar masih sepi dan aktivitas jual beli belum ramai. Nampak warung couscous dengan pagawai yang sibuk menyiapkan meja panjang terbuka. Saat memintas, seseorang dari balkon rumah menggelar karpet dan mengibasnya keras-keras. Debu-debu mengambang dan kami mendongak mencari muasal.

Saat di hotel, kami terkesan dengan teh mint Maroko. Rasanya jauh berbeda dengan teh mint kemasan yang dijual di swalayan-swalayan Indonesia. Sebuah toko rempah dan herbal, diantara warna-warni cerah, kami mencari teh mint itu. 


Pemandu lokal  yang fasih berbahasa Inggris lalu membawa kami sebuah toko cinderamata. Pegawai toko seorang lelaki berjaket kulit yang banyak bicara, ramah dan suka dipotret. Pemilik toko seorang lelaki tua yang sekali-sekali menjelaskan barang dagangannya. 

Syal. Tas-tas buatan tangan. Produk kulit. Sedikit kaftan Maroko yang digantung begitu saja. Barang-barang logam. 

Di luar toko, di gang serupa labirin itu, ada tiga pengasong cinderamata dengan tanda pengenal tergantung di dada, sepertinya dari dinas pariwisata. Mereka menawarkan pernak-pernik dan baju kaos.  Menurut kawan saya yang membeli, harganya lebih murah ketimbang di toko cinderamata yang kami datangi di Casablanca.  Salah seorang bertanya asal kami. Ketika saya menjawab Indonesia, ia berkata dengan tersenyum, " O, Indonesiaa...Moslem..."





















Jika ada Old Medina, apakah ada New Medina ? Ya, tapi tidak dibahasakan dengan New Medina. Selain kawasan kuno ini adalah 'kota baru', Ville Nouvelle

Old Medina terdiri dari Grand Souk dan Little Souk. Namun ketika di sana, saya tak begitu memperhatikan bagian mana yang Grand Souk atau Little Souk

Saya ingin berhenti di semua bangunan tua yang menarik perhatian saya namun karena bersama rombongan, hal itu tidak dapat saya lakukan.  Ada madrasah tua. Tembok tua. Benteng tua. Jendela-jendela khas berbentuk tapal kuda yang juga saya jumpai kemudian di Andalusia.


















TANGIER (2)

Mural Sepanjang Jalan























Sabtu, 20 Agustus 2016

TANGIER


Cap Spartel

Tercenung di balkon Les Atlas Mohades. Memandang selat Gibraltar yang berkilauan. Bulan Mei awal, tepi musim dingin. Inilah kampung halaman Ibnu Batutah, kelana Berber itu : Tangier. Tanger. Tanjah. Tujuh abad setelah kelahirannya, sembari menikmati jalanan dan orang-orang yang melintasinya, saya membayangkan sosoknya ; Ia mengenakan djellaba warna pasir, menunggang kuda atau onta, berhenti di pelabuhan sibuk, naik kapal dan menyeberangi Gibraltar.

Pada malam hari, terdengar suara menderu-deru. Saya mengira mesin atau entah apa. Lalu saya menyadari itu jeritan angin dari Gibraltar. Tidakkah berbahaya ? Saya mengintip ke jalan, mencari-cari ketakutan  pada orang-orang.  Di kafe dan restoran yang nampak dari balkon, para lelaki bercengkrama. Di jalan, orang-orang dan kendaraan melintas. Tenang, biasa.  Bulan sabit menggantung di langit pekat.

Sebuah kamar, terlalu luas untuk seorang diri. Double Bed. Meja tulis besar. Kamar mandi luas. 

Sebelum mengalami angin menderu-deru, kami sempat mengitari Avenue Mohammed VI. Buru-buru kembali ke hotel karena tak tahan dengan udara yang terasa menghujam tulang. 

Esoknya, kami mendekati pantai. Sama seperti malam hari sebelumnya, kami tak tahan dingin. Angin menggigit.










Di lobby hotel, ada deretan lukisan penguasa dari dinasti Almohad dengan penjelasan berbahasa Perancis. Dinasti Berber ini berkuasa dari tahun 1130-1269 merujuk ke tulisan tersebut. Di Wikipedia, Kekhalifahan Almohad dicatat berkuasa dari tahun 1121-1269 dengan daerah kekuasaan hingga ke Spanyol. 

















Di kota ini, kami tetap makan di hotel. Keburu kenyang, kami tak berpikir untuk mencari makan di luar. Padahal, ketika berada di negara lain, seharusnya mencicipi makanan setempat yang otentik. Jalanan biasanya menyajikan jajanan lokal berlimpah.






Kamis, 21 Juli 2016

CASABLANCA

Tiba di Casablanca hari pertama bulan Mei 2016, setelah penerbangan kurang lebih delapan jam dari Doha. Total penerbangan saya sejak dari Jakarta hampir enam belas jam ! Ketika pesawat menyentuh landasan, nampak bentangan tanah retak-retak gering. Landasan tak seluruhnya beraspal.  Bandara Mohammed V bukan bandara besar dan modern. Kecil dan tua. Itu justru menguatkan gambaran kekunoan dalam kepala saya. Kota yang namanya berarti rumah putih  dalam bahasa Portugis ini ( casa branca, kemudian berubah dalam bahasa Spanyol casa blanca ) biasa ditautkan dengan film-film spy dan tentu saja film Casablanca.



suasana bandara sultan mohammed v

sekitar hotel
  


sekitar hotel imperial


Add caption

 hotel imperial









Saya mengharapkan istrahat ketika tiba di hotel Imperial, sebuah hotel berkesan kuno dengan lobby sempit dan pramutamu yang berpakaian tradisional. Namun demi memenuhi itinerary, kami hanya memasukkan barang ke dalam kamar dan langsung menyusuri kota



Tentu saja yang wajib didatangi di Casablanca adalah masjid Sultan  Hassan II. Bangunan ini menjorok ke Laut Atlantik. Dibangun pada tahun 1983 dan selesai tahun 1993, masjid yang memiliki menara setinggi 210 meter ini, diarsiteki Michel Penseau.  Berkarib debur ombak, lokasi masjid ini juga merupakan tempat berleha-leha warga Maroko. Kebetulan saat itu hari Minggu. Orang-orang ramai di tembok pembatas menghadap laut. Banyak pedagang makanan.  




sampah yang belum diangkut
tak lama setelah memotretnya, petugas kebersihan tiba


Suasana Casablanca yang saya tangkap adalah tenang dan damai. Sampah yang teronggok belum diangkut petugas kebersihan di beberapa sudut-sudut jalan, sangat saya sayangkan. Rumah-rumah gaya mediterania dengan bunga-bunga warna-warni sungguh menarik.

bandara mohammed v

Saat saya menulis catatan ini, saya berusaha mengingat-ingat tempat yang datangi :).   Saya menyesal baru menuliskannya sekarang. Menyesal pula saya mencatat sekadar di note ponsel. Seharusnya begitu tiba di kamar hotel saya segera menulis. Sekarang, saya melupakan hal-hal detil yang justru penting untuk sebuah tulisan perjalanan.




jalanan casablanca

Selama berada di kota terbesar di Maroko ini, saya tak sempat nongkrong di warung yang menjual makanan lokal otentik  semisal couscous.  Meski hotel menyajikan makanan lokal, tentu berbeda dengan makanan di luar hotel. Itu salah satu penyesalan saya dan yang membuat saya bercita-cita kelak hendak kembali ke Maroko.





kawasan masjid hassan ii


laut atlantik


sudut-sudut kota



memotret dari kaca bus



masjid sultan hassan II



sudut-sudut kota




sudut-sudut kota




















Maroko merupakan penghasil minyak Argan -terbaik di dunia.   Tanaman endemik  yang bernama latin Argania spinosa merupakan komoditas unggul Maroko (tanaman ini juga tumbuh di Israel dan Mexico namun native-nya Maroko). Minyak Argan digunakan dalam makanan, kosmetik, pengobatan. Karena merupakan tumbuhan endemik dan oleh dampak budidaya, spesies ini dilindungi UNESCO.   Terdapat konservasi Argania di kawasan antara pegunungan Atlas dan Atlantik seluas 2.560.000 hektar


Pemandu membawa kami ke sebuah toko yang menjual produk Argania spinosa ; minyak argan murni, kosmetik dan obat-obatan. Toko kecil yang di dalamnya menjadi beberapa ruangan ini juga menjual herbal lokal lainnya.  Sebelum mempresentasikan produk, pegawai toko menggunakan seperti jas lab.

Jangan lupa membeli produk minyak Argan ini karena merupakan khas dan keunggulan Maroko. Biasanya kosmetik yang mengandung minyak Argan merupakan produk high-end ketika diproduksi negara lain.