Tampilkan postingan dengan label INDRES dan WARU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDRES dan WARU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2016

MATA INDRES BERKACA-KACA

Karena Mbak Wary harus kembali ke Jogjakarta. 


Di terminal bus yang agak gelap, Indres mewek. Ia mengantar kakaknya hingga pintu bus. Wary tak naik pesawat perusahaan karena jadwal terbang pesawat tersebut dari kota kami ke Balikpapan tak begitu menyenangkan baginya. Ketimbang berlama-lama di bandara, Ia memilih menempuh kurang lebih enam jam perjalanan darat.  Keputusan yang aneh menurut saya karena saya lebih memilih nongkrong barang 3-4 jam di bandara ketimbang naik bus. Lalu ngopi-ngopi cantik.  Tetapi Wary tak suka menunggu sendirian. Ia selalu nampak sedikit gugup jika melakukan perjalanan seorang diri.


Kepergian dua anggota keluarga menjadikan rumah sejenak terasa suwung. Kemarin suami bisik-bisik : " Mengapa Si Encul menangis ?".   Ia melihat anak itu meneteskan air mata di kamar.  Saya pikir mungkin bertengkar dengan Yesha atau dengan salah satu geng Bodrex (istilah kami untuk empat kawannya yang sering ishoma di rumah).


Ternyata ia masih bersedih atas kepergian Mbak Wary. Mengenang-ngenang kebersamaan mereka. Saya menggodanya, bergaya terisak-isak. O, sungguh kelakuan tak berempati pada kanak-kanak yang kehilangan seteru sekaligus kawan bermain ! 

Minggu, 17 Juli 2016

INDRES "M"

Sejak lama Indres menanti menstruasi pertama. Kawan-kawan akrabnya hampir semua telah M. Kurang lebih setahun lampau ia membeli sekotak pembalut bergambar Hello Kitty. Waktu berlalu, M tak kunjung datang, pembalut tergeletak manis di rak bersama sederetan komik dan berbagai barang lainnya.

Saya masih bermalas-malasan ketika Indres tiba-tiba masuk dan berkata : " Aku haid, Bun.."

Hujan baru saja tercurah deras. Saya membayangkan secangkir kopi yang enak dan mengepul panas. Sebelum saya kembali memberi ceramah dan seluk-beluk menstruasi, Wary, Sang Kakak, mengambil peran. Ia memberi pengarahan dan nasehat.   

Sang Ayah bertanya apakah kami akan kehilangan bau Indres ? Aroma anak-anak yang kecut di pagi hari. Kami menyebutnya bau belimbing dan berusaha menjadi penyesap pertama saat ia bangun tidur. Aroma tubuhnya mungkin akan mengikuti aroma Yesmut, sahabat Indres, yang memusingkan kepala dan meninggalkan ruap tajam  di ruangan.


Yesmut bertandang hingga jelang maghrib. Saya menggoda, "Yesmut membesukmu, Dek ?"


Ketika Yesmut pergi, Wary misuh-misuh akan aroma yang ditinggalkannya. Bau ketiak anak puber. Ia membuka pintu dan jendela selebarnya sebagaimana saya melakukannya di ruangan belajar ketika Yesmut usai bertandang.